BRMP Kementan Kembangkan B100 Setara Euro 5 dan Euro 6
JAKARTA, Bioreaktor besutan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Kementerian Pertanian (BRMP Kementan) berhasil memproduksi biodiesel yang terbuat 100% dari minyak sawit mentah/CPO (B100) setara Euro 5 dan Euro 6. Dengan kandungan sulfur hanya 3,85 ppm ini berdampak positif terhadap perfoma dan kesehatan serta efisiensi bahan bakar meningkat.
Alih inovasi teknologi bioreaktor B100 tersebut dipamerkan di Warehouse Hilirisasi Perkebunan pada Pekan Nasional (penas) Petani Nelayan XVII yang diselenggarakan di Provinsi Gorontalo pada 20-25 Juni 2026. Hasil inovasi ini mendapat antusias besar dari ribuan pengunjung mengingat pemanfaatan energi terbarukan menjadi solusi alternatif di saat gejolak harga bahan bakar fosil di pasar global.
Kepala BRMP TRI - Balai Perakitan Tanaman Industri dan Penyegar Dr. Ir Evi Savitiri Iriani ketika dihubungi kabarbisnis.com di Jakarta, Selasa (23/6/2026) menuturkan, teknologi bioreaktor hybird mampu menghasilkan bahan bakar nabati ramah lingkungan. Teknologi hybrid ini menggabungkan proses transesterifikasi, pencucian dan pengeringan- pemurnian dalam dalam satu unit.
Alhasil, waktu produksinya lebih efisien dibandingkan reaktor konvesional. Adapun kualitas bahan bakar lebih bersih , mesin lebih halus dan ramah untuk mesin diesel modern common rail. Hasil uji laboratorium menunjukan angka cetane number (CN) B100 mencapai 51 artinya bauran energi -setara dengan brand Dexlite -solar non subsidi Pertamina.
Bahkan hasil pengujian mengungkapkan kandungan sulfur B100 yang dihasilkan reaktor hybird BRMP TRI hanya sebesar 3,85 ppm. Angka ini jauh lebih rendah dari rata-rata BBM ramah lingkungan dunia (seperti Euro 4 dan Euro 5 yang membatasi maksimal 50 ppm dan 10 ppm).
Data Pertamina menyebutkan, Pertamina Dex mengandung kandungan sulfur 50 ppm atau baru memenuhi standar Euro 4. Adapun solar bersubsidi, kandungan sulfurnya jauh lebih tinggi yaknj mencapai 4.500 PPM dengan dengan CN 48 atau baru memenuhi Euro 1.
Berkaitan dengan pengembangan B100 berada di lahan BRMP TRI, Sukabumi, Jawa Barat seluas 150 hektare (ha) untuk kebutuhan internal balai. "Reaktor hybrid BRMP TRI memiliki kapasitas 3.000 liter minyak sawit mampu menghasilkan B100 di harga Rp 15.000 per liter. Bandingkan dengan harga diesel non subsidi di bulan lalu yang sempat mencapai Rp 28.000 per ketika harga minyak mentah dunia tembus diatas US$115 per barel," terang Evi.
Mengutip laman Pertamina, harga solar Pertamax dexlite non subsidi di Jawa Rp 23.000 dan Pertamina Dex CN 53 seharga 24.800 per liter. Sementara harga solar di BP AKR Rp 25.060 per liter. "Artinya, ada penghematan 65,3% dari konsumsi biodiesel B100 apabila kita setarakan menkonsumsi solar non susbidi," jelas Evi.
Dengan bahan baku minyak sawit sebanyak 100 liter, sambung Evi, bioreaktor hybrid BRMP TRI akan menghasilkan 87 liter biodiesel. Hasil pengujian jalan, konsumsi satu liter B100 berhasil menempuh jarak 13,1 kilometer (km), sementara konsumsi solar sebesar 9,7 (km). Namun Evi mengakui penggunaan B100 berbahan baku CPO menambah pergantian filter 4-5 kali dibandingkan diesel konvensional sebanyak dua-tiga kali dalam setahun.
BMRP TRI, tegas Evi, terus mendorong inovasi dari hilirisasi energi hijau terbarukan. Kehadiran teknologi yang menghasilkan produk nilai tambah ramah lingkungan dan ekonomi. Kini reaktor B100 BMRI TRI mampu menampung bahan baku CPO 3.000 liter per hari dengan pengoperasian lebih 8 jam.
Pengembangan B100 dirintis sejak 2015, dengan kapasitas bahan baku produksi liter CPO sebanyak 25 liter per hari. Alat reaktor ini dapat menghasilkan kualitas bidoesel yang telah memenuhi standar nasional Indonesia (SNI), Eropa dan Amerika Serikat.
Penggunaan B100, aku Evi, masih terbatas untuk kebutuhan internal balai. Pasalnya, regulasi membatasi pemanfaatan B10 untuk kebutuhan penelitian, bukan komersial sehingga tidak dapat dijual langsung kepada masyarakat.
Dia menambahkan, BUMN PT Barata Indonesia (Persero) pernah membeli lisensi teknologi inovasi bioreaktor bahan bahan bakar nabati tahun 2020. Hanya saja, untuk memproduksi massal terkendala regulasi yang mengharuskan penjualan dan distribusi bahan bakar nabati harus melibatkan PT Pertamina (Persero).
Padahal potensial pasarnya sangat besar. Misalnya koperasi-koperasi kelapa sawit dapat mengoperasikan teknologi bioreaktor kelapa sawit mampu mengolah dengan bahan baku CPO. Setidaknya,truk-truk kendaraan yang mengakut hasil tandan buah segar (TBS) tidak lagi kesulitan membeli BBM solar di SPBU karena lokasinya yang dari areal perkebunan sawit.
"Sementara di wilayah perkotaan, bahan bakunya bisa menggunakan minyak jelantah. Dibutuhkan fleksibilitas kebijakan pemerintah untuk mendorong hilirisasi produk perkebunan bernilai tambah secara massif, sehingga akses masyarakat terutama petani dan nelayan mudah memperoleh bahan bakar nabati domestik menggantikan impor BBM fosil," pungkasnya.
Sumber: BRMP Kementan Kembangkan B100 Setara Euro 5 dan Euro 6